Filmmaker of the Month: Asrida Elisabeth (Indonesian)

Cerita film di layar mengingatkan penonton kepada situasi nyata pengalaman hidup sehari-hari. Mereka selalu mengkaitkan film dengan konteks dimana mereka hidup.

Name: Asrida Elisabeth (Indonesian)

Baru-baru ini pembuat video, Asrida Elisabeth memperoleh penghargaan sebagai pemenang dari kategori dokumenter panjang Festival Film Dokumenter - FFD 2015 di Yogyakarta. Berikut wawancara Engagemedia dengan Asrida Elisabeth.

Tentang Filmmaker

Asrida Elisabeth (AE): Nama saya, Asrida Elisabeth. Saya orang Flores di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Sejak 2011 lalu, bekerja di Papua membantu pastor Jon Djonga tepatnya sebagai asisten karena saya mengerjakan banyak hal yang merupakan kerja-kerja di luar liturgi.

Kebetulan Pater (pastor Jon Djonga), disamping sebagai pastor, dia juga aktivis sehingga saya lebih banyak membantu pekerjaan-pekerjaan Pater yang ada. Bersama Pater saya turut mendokumentasikan berbagai permasalahan sosial, juga sering ikut melakukan pemutaran film di kampung-kampung. Lokasinya entah di pedalaman, ataupun di daerah yang sudah ada akses listriknya. Dalam kunjungan kami ke daerah-daerah tersebut biasanya kita selalu membawa film untuk ditonton. Jika di daerah tersebut tidak ada listrik, kita sebelumnya akan membawa bensin. Bahkan jika di tempat tersebut tidak ada generator listrik kita biasanya membawanya sendiri.

HTML5 Icon

Pendapat mengenai Media Audio-Visual

AE: Bagi saya video memiliki kekuatan yang memudahkan orang mudah menangkap pesan lewat video karena video bersifat audio-visual. Jadi saat saya berkeliling, biasanya memutarkan film, lalu mengajak masyarakat untuk berpendapat dari apa yang mereka lihat di film-film itu. Pengalaman ini membuat saya mengetahui bahwa video (media audio-visual) membuat kita bisa lebih mudah menyampaikan pesan, apapun yang ingin kita sampaikan kepada penonton, kepada masyarakat.

Awal Belajar Video

AE: Awalnya kami hanya memutarkan film, lalu melihat bahwa masyarakat sangat tertarik dengan media audio-visual. Media ini memudahkan orang untuk berkumpul. Jika kami memutar film di kampung atau di gereja jadi orang dengan mudah datang dan berkumpul. Lalu kemudian, saya berpikir film-film yang kita putar ini adalah film-film yang dibawa dari tempat lain, bagaimana jika orang-orang disini yang kami filmkan, lalu filmnya kita tonton bersama. Setelah menonton kita mendiskusikan kehidupan kita sendiri. Jadi ada masalah di dalam masyarakat, kita buatkan media audio-visual lalu ditonton bersama dan didiskusikan bersama, dari situ awalnya.

Kemudian, saya bertemu dengan teman-teman di Papuan Voices. Kebetulan ada kak Frangky (FX. Making). Saya juga pernah juga bertemu langsung dengan teman-teman EngageMedia, dengan mereka ini saya belajar membuat film. Awalnya belajar mengambil gambar, bagaimana mewawancarai, teknik pengambilan gambar yang baik, posisi kamera, dan lain sebagainya. Lalu kemudian belajar membuat video-video saya sendiri. Setelah itu saya mulai mengirimkan video ke beberapa festival. Jadi saya sudah membuat dua video sendiri secara independen.

Berikutnya ada pengumuman dari Project Change, kebetulan isu yang mengangkat isu perempuan dan kelompok minoritas. Nah, kebetulan saya juga banyak berhubungan dengan perempuan dan kelompok minoritas di daaerah saya bekerja, ada ide yang saya ingin sampaikan. Setelah menjalani proses seleksi dan diterima akhirnya filmnya diproduksi dan akhirnya menjadi film yang utuh.

Bagaimana Masyarakat Bereaksi terhadap Film

AE: Saya melihat respon masyarakat ketika menonton film itu macam-macam. Biasanya menurut pengalaman saya ketika memutar film-film di komunitas meski film tersebut berisikan cerita dari tempat lain, entah cerita tentang kesehatan, tentang pendidikan, mereka (masyarakat) merefleksikan apa yang ada di dalam gambar itu kepada kehidupan mereka sehari-hari. Media itu seperti membantu orang untuk melihat sekeliling mereka, melihat masalah-masalah yang juga terjadi yang ada kaitannya dengan film yang sedang ditonton. Jadi meskipun filmnya dari tempat lain tapi ketika ditonton dan masyarakat berkomentar mereka selalu berusaha menghubungkan apa yang ada di dalam film, dengan kehidupan masyarakat di lokasinya, dengan konteks masyarakat di tempat pemutaran film itu.

Soal Film Tanah Mama

AE: Saya memasukkan cerita tanah mama ke Project Change 2013. Awalnya cerita yang saya mau angkat itu soal keseharian hidup mama-mama di Wamena. Kebetulan saat membuat film Tanah Mama itu, saya sudah setahun lebih berada di Wamena. Saya ingin angkat dari subyek Mama Halusina itu soal dia berperan sebagai dukun beranak. Di Wamena, Papua, aktivitas semacam itu tidak disebut dukun beranak namun dia bisa dikata mama Halusina bekerja seperti bidan kampung. Dia membantu mama-mama lain di kampung yang melahirkan karena wilayah itu letaknya sangat jauh sehingga kaum perempuan dan anak susah sekali untuk mengakses layanan kesehatan. Nah, di tengah kesulitan ini, dimana ia juga dia juga berjuang untuk keluarga, mama Halusina masih menyediakan waktu menolong mama-mama yang lain yang sebenarnya hidupnya tidak jauh berbeda sulit dengan dirinya.

Nah ini cerita awal saya tentang mama Halusina. Lalu karena ini dokumenter, sehingga cerita kita sangat tergantung dengan kondisi karakter yang ingin kita ceritakan. Di tengah-tengah riset saya, mama Halosina mendapat masalah, dia harus pindah ke kampung lain, karena mengambil ubi milik keluarga yang lain. Karena waktu itu ide cerita saya mengenai mama sebagai dukun beranak sudah diterima oleh Project Change, sementara ada masalah lain yang terjadi terhadap mama sebagai karakter utama, saya jadi bingung bagaimana cara memfilmkan cerita ini. Kegundahan ini saya sampaikan itu kepada produser dan mentor (Ucu Agustin). HTML5 Icon Lalu mereka bilang itu juga cerita yang sangat menarik karena hal itu tidak berbeda jauh dengan ide cerita awal yang ingin mengangkat soal tanggungjawab sehari-hari menjadi perempuan di daerah itu. Kemudian, proses pengambil gambar tanah mama itu dipercepat sehingga jadi film Tanah Mama versi yang sekarang bisa ditonton itu.

Kesan dan Tanggapan Penonton

AE: Biasanya jika film Tanah Mama diputar di kalangan aktivis akan banyak pertanyaan soal bagaimana kehadiran pemerintah di sana, bagaimana adat memposisikan perempuan, bagaimana poligami, bagaimana hal perempuan atas tanah, dan macam-macam lain. Namun ketika film ini diputar di masyarakat, setidaknya dari pengalaman pemutaran mandiri yang saya lakukan di misalnya, Wamena, memang seperti saya jelaskan di awal, ketika itu diputar di kalangan masyarakat atau komunitas langsung semua melihat film itu dan merefleksikan kehidupan mereka sendiri. Jadinya cerita di layar itu mengingatkan mereka pada situasi nyata pengalaman hidup sehari-hari.

Penarikan Film Tanah Mama dari Festival Melanesia

AE: Sebenarnya jauh sebelum festival itu dilaksanakan saya cukup mengikuti bagaimana wacana soal Melindo, Melanesia-Indonesia. Itu sebenarnya istilah baru, yang baru saja ada sejak jaman pemerintahan Presiden Jokowi. Jadi jauh sebelumnya sama sekali tidak ada pembahasan mengenai Melindo, di Indonesia ini ada yang disebut Melanesia. Saya juga cukup mengetahui informasi mengenai perjuangan aktivis Papua di luar negeri. Apa saja yang sedang mereka lobi di kawasan Pasifik mengenai nasib Papua. Lobi tersebut cukup kuat karena mendapat sorotan khusus di MSG, Melanesian Spearhead Group. Tidak lama setelah itu, muncul berbagai wacana seputar Melanesia Indonesia itu.

Melindo menurut pemerintah itu termasuk Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara dan NTT, kebetulan sekali saya juga orang NTT. Saya melihat acara ini hanya dibuat untuk tujuan politik tertentu, dan tidak benar-benar ingin mengangkat masalah Melanesia. Bukan benar-benar soal penghargaan terhadap budaya Melanesia. Tapi lebih soal bagaimana Indonesia ingin membuktikan pada orang Papua bahwa di Indonesia ini bukan hanya Papua yang Melanesia. Namun ada orang-orang lain di daerah lain juga yang Melanesia.

Mereka seperti ingin menghalang-halangi orang Papua mendapat tempat di MSG. Sebenarnya kenapa mereka (para aktivis Papua) ke forum MSG adalah karena perjuangan orang Papua atas begitu banyak pelanggaran HAM yang tidak direspon oleh pemerintah. Peristiwa-peristiwa itu dilupakan begitu saja, terjadi terus menerus, lalu tidak ada penyelesaiannya. Sehingga orang Papua mencari ruang lain dimana di situ mereka mulai mendapat tempat di situ. Saat itulah pemerintah Indonesia muncul lagi mengetengahkan politik Melanesia Indonesia.

Penarikan film ini hanya bagian kecil saja. Tapi saya tidak ingin menjadi bagian dari acara Melindo ini. Saya tidak ingin film ini dipakai sebagai, seolah-olah sebagai pembuat film saya juga setuju dengan ide Melanesia Indonesia itu. Karena dibalik pembentukannya telah menjadi tanda tanya berbagai pihak, bagi saya sendiri orang NTT, dan saya yakin hal itu menyakiti perasaan orang Papua dimana saya bekerja.

No Comments

Post A Comment